Kisah Kelam Pembantaian di Masjidil Haram dan Hilangnya Hajar Aswad Selama 22 Tahun

CYBERSULUT.NET – Dalam lintasan sejarah Islam, Ka’bah tidak selalu berdiri dalam kedamaian. Salah satu peristiwa paling memilukan terjadi pada tahun 317 Hijriah (930 Masehi), ketika batu suci Hajar Aswad dicuri dari sudutnya dan hilang selama lebih dari dua dekade.

Peristiwa ini bukan sekadar pencurian, melainkan serangan berdarah yang menghentikan ibadah haji bagi umat Muslim kala itu.

Tragedi ini didalangi oleh kelompok Qaramithah, sebuah sekte radikal yang berbasis di Bahrain, di bawah pimpinan Abu Thahir Al-Qarmuthi. Dengan membawa sekitar 900 pasukan berkuda, Abu Thahir memasuki Makkah pada hari Tarwiyah saat jemaah haji sedang bersiap menjalankan rukun ibadah.

Alih-alih menjaga keamanan, pasukan ini justru melakukan pembantaian massal. Tercatat sekitar 30.000 jemaah haji tewas dalam serangan tersebut. Tak berhenti di situ, mereka menodai kesucian Masjidil Haram dengan melemparkan jenazah para korban ke dalam sumur Zamzam guna mencemari airnya.

Puncak dari tindakan provokatif ini terjadi ketika Abu Thahir mendekati Ka’bah. Dengan menggunakan tongkat besi (dabbus), ia mencungkil Hajar Aswad hingga pecah menjadi beberapa bagian, lalu membawanya pergi ke negerinya di wilayah Hajar (sekarang bagian dari Arab Saudi Timur/Bahrain).

Motif di balik pencurian ini adalah ambisi politik dan ideologis. Abu Thahir berupaya memindahkan pusat ibadah haji dari Makkah ke wilayahnya. Namun, meski batu tersebut berada di tangannya selama 22 tahun, tidak ada satu pun umat Muslim yang berpaling dari Ka’bah.

Hajar Aswad baru dikembalikan pada tahun 339 Hijriah (951 Masehi), setelah kematian Abu Thahir. Pemulangan ini dilakukan oleh Sanbar bin al-Hasan al-Qirmithi. Ada sebuah riwayat masyhur yang menyebutkan perbedaan fisik saat pemindahan.

“Ketika dicuri, Hajar Aswad terasa sangat berat hingga puluhan unta pengangkutnya mati. Namun saat dikembalikan, batu tersebut terasa ringan dan hanya dibawa oleh seekor unta kurus yang kemudian menjadi sehat.”

Saat meletakkannya kembali ke posisi semula, Sanbar berujar, “Kami mengambilnya dengan kekuasaan Allah, dan kami mengembalikannya dengan kehendak-Nya.”

Akibat hantaman keras saat pencurian tersebut, Hajar Aswad pecah menjadi beberapa fragmen kecil. Saat ini, fragmen-fragmen tersebut disatukan dalam sebuah bingkai perak di sudut tenggara Ka’bah.

Sisa-sisa sejarah kelam ini menjadi pengingat bagi umat Islam tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesucian tempat ibadah dari ideologi ekstrem yang menyesatkan.

Kini, jutaan manusia kembali bisa mencium dan menyentuh batu yang diyakini berasal dari surga tersebut, mengakhiri luka sejarah yang sempat membuat Masjidil Haram mencekam selama 22 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Continue copy, click home