CYBERSULUT.NET – CEO Nvidia, Jensen Huang, menyatakan komitmen teguh untuk tetap mempertahankan operasional perusahaannya di Israel, meskipun konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran global terkait stabilitas bisnis akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang kini mulai meluas ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA).
Dalam konferensi GTC baru-baru ini, Huang menekankan bahwa Israel merupakan pilar krusial bagi ekosistem inovasi Nvidia. Saat ini, raksasa chip tersebut mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan di negara tersebut.
Huang menyampaikan pesan emosional yang ditujukan langsung kepada timnya di Israel. Ia menegaskan bahwa perusahaan akan memastikan stabilitas operasi dan memberikan dukungan penuh kepada keluarga karyawan yang terdampak huru-hara tersebut.
“Kami memiliki ribuan keluarga di Israel. Saya sangat khawatir soal kalian semua. Jaga diri baik-baik. Kami ada di belakang kalian, mendukung kalian, dan berharap dapat bertemu dengan kalian,” ujar Huang sebagaimana dikutip dari Times of India, Senin (13/4/2026).
Meskipun Huang sempat merencanakan kunjungan langsung ke Israel pada bulan April ini, realisasi rencana tersebut masih bergantung pada situasi keamanan yang terus berkembang di lapangan.
Keputusan Nvidia untuk bertahan bukan tanpa alasan strategis. Israel telah menjadi pusat pengembangan teknologi tingkat tinggi bagi Nvidia, termasuk pengembangan unit pemrosesan data (DPU) generasi terbaru, BlueField-4.
Komitmen jangka panjang ini Nvidia juga dibuktikan melalui pembangunan kampus baru di Kiryat Tivon, yang diproyeksikan mampu mempekerjakan hingga 10.000 pekerja.
Kenaikan permintaan chip AI global telah melambungkan kekayaan Jensen Huang hingga mencapai US$163,3 miliar (setara Rp1.795 triliun) versi Forbes. Kekuatan finansial ini memungkinkan Nvidia untuk tetap melakukan manuver strategis di zona berisiko tinggi demi mengamankan jalur inovasi perangkat keras mereka di masa depan.


















