CYBERSULUT.NET – Majelis Nasional Vietnam secara bulat menetapkan Sekretaris Jenderal Partai Komunis, To Lam, sebagai Presiden negara tersebut untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Keputusan strategis ini diambil dalam sidang parlemen yang berlangsung pada Selasa (7/4/2026), mengukuhkan posisi To Lam sebagai tokoh paling berpengaruh di negara tersebut.
Terpilihnya kembali To Lam menandai periode kedua kepemimpinannya di kursi kepresidenan. Berdasarkan laporan media lokal VnExpress, pria berusia 69 tahun asal Provinsi Hung Yen ini akan mengemban amanat untuk periode 2026–2031, sembari tetap mempertahankan posisinya sebagai pucuk pimpinan partai.
Tak lama setelah pemungutan suara berakhir, To Lam secara resmi mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Majelis Nasional. Ia berjanji untuk setia kepada konstitusi dan mengabdi sepenuhnya kepada rakyat.
Karier politik To Lam memang menunjukkan tren peningkatan yang tajam. Sebelum menjabat sebagai Sekretaris Jenderal pada Agustus 2024 menyusul wafatnya Nguyen Phu Trong, ia dikenal luas sebagai Menteri Keamanan Publik sejak 2016. Pengalaman militernya juga tak main-main, dengan pangkat Jenderal yang disandangnya sejak 2019.
Jabatan rangkap sebagai Sekjen Partai sekaligus Presiden bukanlah hal asing bagi To Lam. Pada tahun 2024, ia sempat memegang kedua peran vital tersebut selama tiga bulan. Kini, dengan rekam jejak empat periode di Komite Sentral dan tiga periode di Politbiro, To Lam memiliki mandat penuh untuk menentukan arah masa depan Vietnam.
Di bawah kendalinya, Vietnam kini tengah memacu akselerasi ekonomi melalui sejumlah kebijakan strategis. To Lam telah menetapkan dua target utama yang menjadi prioritas pembangunan jangka panjang:
Tahun 2030: Mentransformasi Vietnam menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas dengan basis industri modern.
Tahun 2045: Membawa Vietnam masuk dalam jajaran negara maju dengan pendapatan tinggi.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Presiden To Lam telah memulai langkah-langkah reformasi administrasi yang signifikan. Hal ini mencakup efisiensi pemerintahan, penataan wilayah dan kemitraan global.
Pengangkatan kembali To Lam dipandang oleh banyak analis sebagai upaya Vietnam untuk menjaga stabilitas politik di tengah transisi ekonomi besar-besaran. Dengan kekuasaan yang terkonsolidasi, pemerintah diharapkan dapat bergerak lebih cepat dalam mengeksekusi rencana pembangunan nasional.


















