CYBERSULUT.NET – Presiden Perancis Emmanuel Macron menyampaikan pidato provokatif di hadapan mahasiswa Universitas Yonsei dalam kunjungan kenegaraannya ke Korea Selatan pada awal April 2026.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, Macron mendesak negara-negara di dunia untuk berhenti bersikap pasif dan mulai membangun tatanan dunia baru yang tidak didikte oleh persaingan antara dua kekuatan besar, Amerika Serikat dan China.
Dalam kuliah umumnya, Macron menyoroti runtuhnya stabilitas internasional yang telah terjaga selama beberapa dekade terakhir. Ia menggambarkan kondisi dunia saat ini sedang berada dalam fase “naik-turun” yang penuh ketidakpastian.
“Selama beberapa dekade kita memiliki apa yang disebut stabilitas berdasarkan tatanan internasional dan beberapa kepastian, namun sekarang situasinya sangat tidak menentu,” ujar Macron. “Kita tidak boleh hanya pasif dalam kekacauan baru ini. Kita harus membangun tatanan baru.”
Poin paling krusial dalam pidatonya adalah ajakan untuk membentuk sebuah “koalisi kemerdekaan”. Macron memperingatkan agar negara-negara lain tidak terjebak dalam posisi sebagai pengikut atau “vassal” dari dua kekuatan hegemonik dunia.
Ia secara terbuka mengkritik ketergantungan ekonomi pada China yang dianggap terlalu mendominasi, sekaligus menyentil ketidakpastian kebijakan politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.
“Saya rasa tujuan kita bukanlah menjadi boneka dari dua kekuatan hegemonik,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Macron bersitegang dengan Presiden Trump terkait penolakan Perancis untuk mengerahkan pasukan di Selat Hormuz, sebuah langkah yang mempertegas ambisi Macron akan “Otonomi Strategis” Eropa.
Selain isu politik, Macron juga menyoroti rusaknya kerja sama internasional di bidang sains dan penelitian. Ia menyesalkan adanya “fragmentasi” di mana banyak negara mulai memblokir pertukaran informasi dan memangkas pendanaan di sektor-sektor vital.
Menurutnya, tindakan tersebut adalah “pengkhianatan terhadap semangat koordinasi” yang sangat dibutuhkan dunia untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Kita harus berhenti bersaing untuk sementara waktu. Kita harus membahas bagaimana membangun kompromi yang tepat dan bekerja sama kembali,” tambahnya.
Kunjungan Macron ke Seoul ini menandai upaya Perancis untuk memperkuat aliansi dengan kekuatan menengah (middle powers) di Asia, guna menciptakan kutub kekuatan ketiga yang mampu menyeimbangkan polarisasi global yang kian tajam.


















