CYBERSULUT.NET – Ketegangan di Timur Tengah kembali mencapai titik kritis. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letjen Eyal Zamir dilaporkan mengintensifkan koordinasi taktis dengan Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper. Pertemuan tingkat tinggi ini disebut sebagai langkah final dalam mematangkan rencana aksi militer baru terhadap Iran.
Berdasarkan laporan Channel 12, Sabtu (2/5/2026), koordinasi ini bukan sekadar latihan rutin. Fokus utama kali ini adalah penilaian mendalam terhadap sejumlah infrastruktur strategis Iran. Jika komando penyerangan diberikan, target yang dibidik mencakup jaringan energi nasional, sektor industri heavy-duty dan hulu migas.
Washington dikabarkan masih mempertimbangkan opsi “serangan terbatas”. Langkah agresif ini diambil sebagai instrumen tekanan agar Teheran segera menyerah pada meja perundingan terkait program nuklirnya yang dianggap kian mengkhawatirkan.
Meski demikian, situasi di lapangan sangat cair. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini memperpanjang masa gencatan senjata secara sepihak atas permintaan Pakistan—yang bertindak sebagai mediator. Namun, ketiadaan batas waktu yang jelas dalam perpanjangan ini dinilai oleh banyak analis sebagai upaya untuk mengulur waktu guna memobilisasi kekuatan militer di kawasan Teluk.
Situasi mencekam ini merupakan residu dari konfrontasi besar pada 28 Februari lalu. Saat itu, serangan gabungan AS-Israel memicu balasan sengit Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang sempat memicu guncangan harga minyak global.
Upaya damai sebenarnya telah diupayakan. Gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan pada 8 April sempat memberikan napas lega. Namun, pertemuan lanjutan di Islamabad pada 11-12 April lalu berakhir buntu. Ketidaksepakatan politik yang konkret membuat para jenderal kembali ke ruang strategi, sementara para diplomat kian kehilangan ruang gerak.
Di pihak Israel, militer telah meningkatkan status kewaspadaan ke tingkat tertinggi. Selain mempersiapkan serangan, IDF juga memperkuat sistem pertahanan udara untuk mengantisipasi serangan balasan (retaliasi) dari Iran maupun proksi-proksinya di kawasan tersebut.
Kini, dunia hanya bisa menunggu. Apakah perpanjangan gencatan senjata sepihak oleh Gedung Putih akan membuahkan terobosan diplomatik, atau justru menjadi kesunyian terakhir sebelum dentuman rudal kembali mengguncang stabilitas global.


















