Waspada Bencana Ganda Karhutla dan Banjir, Ini 7 Langkah Adaptasi dan Mitigasi Bencana Rekomendasi BMKG

CYBERSULUT.NET – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pemutakhiran prediksi Musim Hujan 2026/2027. BMKG mengonfirmasi bahwa fenomena iklim El Nino dengan intensitas Sangat Kuat saat ini tengah berlangsung dan diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027.

Kondisi tersebut menyebabkan awal musim hujan di mayoritas wilayah Indonesia mundur dari jadwal biasanya, sekaligus membuat durasi musim hujan menjadi lebih singkat.

Berdasarkan dokumen pemutakhiran tertanggal 2 Oktober 2026, sebanyak 482 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 51,90% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari kondisi normal.

“Awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia (529 ZOM, 61,08% luas daratan Indonesia) diprediksi datang lebih lambat atau mundur,” tulis BMKG dalam keterangannya, Selasa (7/10/2026).

Awal musim hujan akan dimulai secara bertahap dari Sumatra bagian utara sebelum meluas ke wilayah Indonesia lainnya. Sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada periode November 2026 (185 ZOM / 24,66%) dan Desember 2026 (266 ZOM / 17,31%).

Meski datang terlambat, akumulasi curah hujan di 510 ZOM (69,76% luas daratan) secara umum diprediksi tetap berada pada kategori Normal atau mendekati rata-rata klimatologisnya.

Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan bergeser dan terjadi pada:

  • Desember 2026: 155 ZOM (36,94% luas daratan)
  • Januari 2027: 162 ZOM (25,68% luas daratan)
  • Februari 2027: 190 ZOM (16,79% luas daratan)

Secara keseluruhan, puncak musim hujan di 332 ZOM (50,76%) diprediksi terjadi lebih lambat dari biasanya.

Mundurnya awal musim hujan berpotensi memperpanjang durasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah rawan. Di sisi lain, ketika puncak musim hujan tiba, masyarakat diimbau mewaspadai potensi banjir serta tanah longsor akibat hujan lebat berdurasi panjang, terutama di kawasan perbukitan dan lereng.

BMKG mengeluarkan serangkaian panduan adaptasi dan mitigasi guna menekan risiko bencana:

Langkah Adaptasi Masyarakat

  • Menyediakan shelter udara bersih dari kabut asap bagi kelompok rentan (anak-anak, lansia, penderita komorbid).
  • Membatasi aktivitas luar ruangan serta memakai masker standar partikulat di wilayah terdampak karhutla.
  • Menyusun jalur evakuasi dan membentuk tim siaga bencana dari tingkat RT/RW.
  • Memantau perkiraan cuaca, peringatan dini BMKG/BPBD, dan tinggi muka air sungai secara berkala.
  • Menyiapkan Tas Siaga Bencana, mengamankan barang berharga ke tempat tinggi, serta mematikan aliran listrik jika banjir masuk rumah.
  • Melakukan evakuasi dini jika melihat tanda pergerakan tanah atau sesuai arahan petugas.
  • Menunda kembali ke lokasi longsor hingga dipastikan aman.

Langkah Mitigasi Bencana

  • Mengoptimalkan pemantauan hotspot untuk pencegahan dan pemadaman titik api karhutla secara cepat dan terintegrasi.
  • Membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan.
  • Membuat lubang biopori, sumur resapan, serta menanam vegetasi berakar kuat.
  • Memetakan lokasi rawan banjir dan longsor serta rutin memeriksa kondisi lereng dan drainase.
  • Menggiatkan sosialisasi dan edukasi tanda awal bencana kepada warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Continue copy, click home