CYBERSULUT.NET – Tim peneliti dari Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), dan Griffith University Australia mengembangkan inovasi pengolahan sampah plastik berbasis energi surya yang berpotensi menjadi solusi untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan bahan bakar bernilai ekonomis.
Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Teknik Mesin Polimdo, Kamis (22/10/2026). Inovasi tersebut menggunakan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar cair, seperti solar, bensin, dan minyak tanah.
Anggota tim peneliti, Steven Johny Runtuwene, M.Eng., menjelaskan bahwa pengembangan teknologi pengolahan sampah tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan mesin dalam memproses limbah. Aspek ekonomi juga perlu diperhatikan agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Menurut Steven, Pemerintah Kota Manado sebenarnya telah melakukan upaya pengurangan sampah melalui pembentukan bank sampah. Pada 2025, tercatat sekitar 50 bank sampah telah dibentuk sebagai bagian dari penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R), yakni mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah.
Namun, tidak semua bank sampah dapat beroperasi secara optimal. Salah satu tantangannya adalah belum terbentuknya sirkular ekonomi yang mampu memberikan keuntungan bagi pengelola.
“Orang bisa menjalankan suatu usaha kalau ada keuntungan. Kalau tidak ada keuntungan dan hanya bergantung pada bantuan pemerintah, ketika bantuan itu berhenti, usahanya juga bisa berhenti,” jelas Steven.
Karena itu, penelitian ini tidak hanya berupaya menghasilkan teknologi pengolahan sampah, tetapi juga menghitung potensi keuntungan yang bisa diperoleh masyarakat yang mengoperasikan mesin tersebut.
Steven menjelaskan, sampah plastik yang diolah dapat menghasilkan bahan bakar yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, kegiatan pengolahan sampah berpotensi membuka peluang usaha sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.
Dalam simulasi perhitungan yang disampaikan, mesin berkapasitas 20 kilogram sampah plastik berpotensi menghasilkan sekitar 15 liter minyak melalui proses pirolisis. Jumlah dan jenis produk yang dihasilkan dapat berbeda, bergantung pada karakteristik plastik serta suhu pengolahan.
Jika hasil tersebut dapat dijual, pengelola berpeluang memperoleh pendapatan dari bahan bakar yang dihasilkan. Namun, perhitungan keuntungan tetap harus memperhitungkan biaya bahan baku, bahan bakar untuk pemanasan, operasional, serta biaya lainnya.
Untuk menekan biaya operasional, tim juga mempertimbangkan pemanfaatan oli bekas sebagai bahan bakar pemanas. Selain berpotensi mengurangi biaya, penggunaan oli bekas yang dikelola secara tepat dapat menjadi salah satu upaya pemanfaatan limbah.
Steven mencontohkan, dalam pengujian yang disampaikannya, sekitar delapan liter oli bekas digunakan selama tiga jam untuk proses pemanasan. Dengan asumsi harga oli bekas Rp2.000 per liter, biaya bahan bakar pemanas mencapai sekitar Rp16.000.
Meski demikian, penggunaan oli bekas perlu memperhatikan aspek keselamatan dan pengendalian emisi agar proses pengolahan tidak menimbulkan pencemaran baru.
Lebih lanjut, Steven menerangkan bahwa hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik dan suhu pemanasan.
Pada suhu yang lebih tinggi, sekitar 500 derajat Celsius, komposisi produk dapat bergeser ke fraksi yang lebih ringan, sedangkan pada suhu yang lebih rendah, sekitar 300–400 derajat Celsius, produk dapat lebih banyak berupa fraksi minyak yang lebih berat.
Steven juga mengingatkan bahwa tidak semua jenis plastik sebaiknya diolah menggunakan teknologi pirolisis. Plastik PET, yang umum digunakan untuk botol minuman, dapat memiliki jalur daur ulang lain yang lebih sesuai, seperti pengolahan menjadi bahan baku plastik kembali.
Sementara itu, plastik PVC tidak boleh diperlakukan sembarangan melalui proses pirolisis karena mengandung klorin yang dapat menghasilkan gas dan senyawa berbahaya apabila prosesnya tidak dikendalikan dengan baik.
Menurut Steven, pemilahan sampah berdasarkan jenis plastik menjadi salah satu hal penting dalam penerapan teknologi tersebut. Dengan pemilahan yang tepat, proses pengolahan dapat dilakukan secara lebih efektif sekaligus mengurangi risiko terhadap lingkungan dan kesehatan.
Steven berharap inovasi hasil kolaborasi Polimdo, Unsrat, dan Griffith University Australia ini dapat menjadi salah satu alternatif penanganan sampah plastik di Kota Manado.
Selain membantu mengurangi volume sampah, teknologi tersebut diharapkan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi dan mendorong masyarakat mengembangkan usaha pengolahan limbah secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pengembangan teknologi pirolisis tidak hanya diarahkan untuk mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga membangun model usaha yang memungkinkan pengelolaan sampah berjalan secara mandiri dan berkesinambungan.


















