CYBERSULUT.NET – Ancaman krisis iklim bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas yang mulai mengetuk pintu kota-kota besar dunia. Laporan terbaru dari badan antariksa NASA dan studi dari Sciencing mengungkapkan bahwa pada tahun 2100, permukaan air laut diperkirakan akan naik setinggi 3 hingga 6 kaki (sekitar 91 hingga 182 cm).
Peningkatan suhu global yang memicu pencairan es di kutub menjadi mesin utama di balik fenomena ini. Di antara kota-kota metropolitan dunia, Jakarta berada di barisan terdepan dalam risiko tenggelam ke dasar laut.
Jakarta menyandang predikat yang mengkhawatirkan sebagai salah satu kota dengan laju penurunan permukaan tanah tercepat di dunia. Studi menyebutkan beberapa wilayah di Jakarta turun hingga 17 cm per tahun. Kombinasi antara kenaikan air laut dan letak geografis yang berada di dataran rendah rawa membuat ibu kota Indonesia ini sangat rapuh.
Kondisi ekstrem inilah yang menjadi motor penggerak pemerintah Indonesia untuk mempercepat pemindahan ibu kota ke Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. IKN diprediksi akan menjadi pelarian utama saat Jakarta mencapai titik kritisnya pada tahun 2045.
Daftar Kota Global dalam Zona Merah
Alexandria, Mesir
Kota terbesar kedua di Mesir ini menjadi tempat perdagangan transbenua, terutama pengapalan minyak. Salah satunya untuk terminal pipa SUMED, antara Laut Merah dan Mediterania yang digunakan untuk mengirim minyak mentah dan gas alam dari Jazirah Arab ke Eropa.
Namun dampak negatif menghantui Alexandria karena penggunaan bahan bakar fosil tersebut. Masyarakat setempat menghadapi mencairnya es gletser, bahkan perkiraan panel iklim PBB, sebanyak 30% kota tersebut dapat terendam air pada tahun 2050 yang membuat 1,5 juta orang mengungsi.
Bahkan banjir juga bisa meluas hingga sebagian besar Delta Nil. Risiko ini dapat menghancurkan salah satu tempat lahirnya peradaban.
Miami, Florida
Lebih dari setengah area Miami-Dade County hanya berada pada ketinggian 6 kaki di atas air laut. Setidaknya 60% wilayah berisiko tenggelam pada 2060 mendatang.
Parahnya, banyak dibangun sejumlah gedung mewah di area pesisir. Bahkan dalam skenario terburuknya, Miami yang tenggelam bisa menjadi bencana alam terburuk sepanjang sejarah dari segi kerusakan ekonomi.
Lagos, Nigeria
Kota terbesar di Afrika juga kerap dilanda banjir pada musim panas. Level tenggelam Lagos mencapai lebih dari 3 inci per tahun.
Dhaka, Bangladesh
PBB telah memasukkan Bangladesh sebagai salah satu dari 10 negara yang terdampak bencana alam. Bahkan Dhaka dinyatakan telah tenggelam setengah inci per tahun.
Kondisi negara itu terus parah karena adanya perubahan iklim, frekuensi dan intensitas banjir yang terus mengkhawatirkan.
Yangon, Myanmar
Yangon juga sering dilanda banjir. Wilayah itu juga terancam karena letaknya dekat dengan Sesar Sagaing, yang bisa membuat sumur air tanah runtuh dan menenggelamkan sebagian besar kota saat adanya gempa bumi besar.
Bangkok, Thailand
Peningkatan air laut terus menerus membuat Bangkok telah kehilangan wilayahnya. Bahkan garis pantainya terus menanjak lebih dalam, sekitar lebih dari 1 km per tahun.
Diperkirakan mayoritas kota akan lenyap dalam satu abad mendatang.
Kolkata, India
Kolkata juga terancam tenggelam karena peningkatan air laut. Masalah lainnya adalah adanya ekstraksi air yanah berlebihan.
Setidaknya lebih dari 10 juta orang terancam mengungsi jika Kolkata terus menerus dilanda banjir.
Manila, Filipina
Manila tercatat terus ‘tenggelam’ sekitar 4 inci per tahun atau lebih tinggi dari kenaikan level air laut global per tahun. Kota itu juga menghadapi masalah kerusakan hutan mangrove yang harusnya menjadi penghadang erosi di sepanjang Manila Bay.
Tercatat 130 ribu hektar hutan mangrove di wilayah itu telah ditebang sejak memasuki abad ke-20.
Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau
Wilayah ini terkonsentrasi di antara Pearl River Data dan Laut China Selatan. Diperkirakan Pearl River Delta memiliki kenaikan air laut setinggi 5 kaki pada 100 tahun mendatang.


















