Struktur Kekuasaan Iran Berguncang, IRGC Dilaporkan Geser Peran Ulama

Foto : Ilustrasi (AI)

CYBERSULUT.NET – Struktur kekuasaan di Republik Islam Iran dilaporkan mengalami transformasi radikal. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kini disebut telah memegang kendali penuh atas keputusan strategis negara, menggeser dominasi tradisional para ulama menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa meski putra mendiang, Mojtaba Khamenei telah ditunjuk sebagai penerus takhta, perannya kini tak lebih dari sekadar simbol legitimasi. Kondisi kesehatan Mojtaba yang memburuk akibat luka parah dari serangan udara di awal konflik membuatnya terisolasi, memberikan ruang bagi para jenderal IRGC untuk mendominasi ruang pengambilan keputusan.

Ketidakpastian di pucuk pimpinan mulai berdampak pada efektivitas operasional Iran di medan perang. Seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam upaya mediasi antara Teheran dan Washington mengungkapkan adanya kelambanan dalam respon diplomasi maupun militer Iran.

“Tampaknya tidak ada lagi struktur komando tunggal. Terkadang mereka membutuhkan waktu dua hingga tiga hari hanya untuk merespons sebuah usulan,” ujarnya kepada Reuters.

Para analis menilai, kekosongan figur otoriter seperti Ali Khamenei telah memaksa Iran beralih ke sistem Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) yang didominasi oleh komandan lapangan. Nama Ahmad Vahidi, komandan senior IRGC, kini muncul sebagai sosok paling berpengaruh yang menentukan arah pergerakan pasukan dan parameter negosiasi.

Pergeseran ini menandai berakhirnya era di mana keputusan negara diambil berdasarkan pertimbangan teologis ahli hukum Islam (Wilayat al-Faqih). Pengamat politik internasional, Arash Azizi menyebut bahwa meskipun keputusan besar masih melewati meja Mojtaba, sang Pemimpin Tertinggi baru tersebut tidak memiliki kekuatan politik untuk membatalkan rencana yang disusun militer.

“Bagaimana dia bisa menentang pihak-pihak yang menjalankan upaya perang?” kata Azizi.

Mantan negosiator Amerika Serikat, Aaron David Miller, merangkum fenomena ini sebagai transisi besar dalam identitas politik Iran.

“Kita telah beralih dari kekuasaan ilahi ke kekuasaan keras. Dari pengaruh ulama ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Inilah cara Iran diperintah sekarang,” tegas Miller.

Dominasi IRGC juga tercermin dalam sikap keras Teheran di meja perundingan. Meski Iran telah mengajukan proposal baru yang mencoba memisahkan isu nuklir dari konflik regional di Teluk, Washington tetap bergeming.

AS bersikeras bahwa pembatasan nuklir adalah syarat mutlak, sementara faksi militer di Teheran enggan memberikan konsesi yang dapat dianggap sebagai tanda menyerah di tengah tekanan Israel dan sekutunya.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Iran masih bungkam terkait laporan keretakan internal ini. Namun, di lapangan, pergeseran dari “jubah ke seragam” ini semakin nyata, mengubah wajah Iran dari negara teokrasi menjadi kekuatan militeristik yang kaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Continue copy, click home