CYBERSULUT.NET – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi telah terjadi 93 aktivitas gempa susulan hingga Kamis siang (2/4/2026), menyusul gempa tektonik dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dan Maluku Utara (Malut).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Gempa yang digelar secara daring, mengungkapkan bahwa frekuensi gempa susulan terus dipantau secara ketat melalui pusat Multi Hazard Early Warning System di Kemayoran.
“Hasil monitoring kami hingga pukul 12.00 WIB telah terjadi 93 aktivitas gempa bumi susulan. Kekuatannya berkisar antara M2,8 hingga M5,8,” ujar Faisal.
“Dari puluhan getaran tersebut, setidaknya terdapat 7 gempa yang dirasakan secara nyata oleh masyarakat,” tambah Faisal.
Faisal juga memberikan peringatan keras kepada seluruh pihak agar tidak lengah. Ia merujuk pada peristiwa sejarah di Palu, di mana karakteristik gempa susulan terkadang memiliki kekuatan yang lebih besar daripada gempa utama.
“Kami mengingatkan agar tetap berhati-hati. Fenomena di Palu menggambarkan bahwa gempa susulan bisa lebih besar. Ini yang terus kami pantau frekuensinya,” tegasnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Utara melaporkan dampak kerusakan bangunan yang mulai terdata di berbagai titik. Kepala Pelaksana BPBD Maluku Utara, Fehby Alting, menyebutkan bahwa gempa ini berdampak luas di enam wilayah, yakni Kota Ternate dan Kota Tidore Kepulauan. Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, dan Halmahera Selatan.
Diungkapkan Fehby, laporan kerusakan sementara akibat gempa, untuk Kota Ternate 6 rumah rusak berat dan 21 rumah rusak ringan. Kota Tidore: 3 rumah rusak ringan dan 1 fasilitas umum terdampak.
“Untuk Kabupaten Halmahera Barat dan Halmahera Tengah, petugas kami masih melakukan proses pendataan di lapangan,” jelas Fehby dalam rapat yang sama.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta menghindari bangunan yang sudah mengalami retak atau kerusakan struktur akibat gempa utama. Pastikan untuk selalu memantau informasi resmi melalui kanal komunikasi BMKG dan BPBD setempat guna menghindari disinformasi yang meresahkan.


















