CYBERSULUT.NET – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) terus mendorong penerapan konsep kampus berkelanjutan atau sustainable campus melalui pengelolaan lingkungan, pengembangan green jobs, serta pemanfaatan sampah menjadi produk bernilai guna.
Hal tersebut disampaikan Direktur Polimdo, Mareyke Alelo, MBA, saat pembukaan Rapat Kerja (Raker) Bakorma se-Indonesia yang berlangsung pada 4–6 November 2026 di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Polimdo.
Mareyke mengatakan, kampus berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga harus memiliki keberlanjutan secara ekonomi.
“Ada dua hal yang perlu kita jaga, yaitu environmentally sustainable dan economically viable. Kampus harus ramah lingkungan, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi,” ujar Mareyke.
Menurut Mareyke, keberlanjutan ekonomi menjadi penting mengingat kondisi mahasiswa Polimdo yang sebagian besar berasal dari wilayah Indonesia Timur. Pihak kampus harus mempertimbangkan kemampuan mahasiswa dalam membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), sekaligus mencari sumber pendapatan untuk mendukung keberlangsungan institusi.
Dalam upaya mewujudkan kampus berkelanjutan, Polimdo juga terlibat dalam program Green Jobs Forum bersama International Labour Organization (ILO). Program tersebut didukung pendanaan UK Prosperity Fund dan melibatkan sejumlah politeknik di Indonesia.
Partisipasi dalam program tersebut turut mendorong Polimdo membangun pusat daur ulang atau recycling center untuk menangani sampah organik dan plastik yang dihasilkan di lingkungan kampus.
Mareyke menjelaskan, sampah organik diolah menjadi kompos yang kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah di lingkungan Polimdo. Sementara itu, sampah plastik diolah menjadi berbagai produk yang dapat dimanfaatkan, termasuk untuk mendukung pembelajaran mahasiswa.
“Dari sampah organik kampus, kita menghasilkan kompos siap pakai yang digunakan untuk memperbaiki kondisi tanah di lingkungan kampus,” jelasnya.
Polimdo juga menjalin kerja sama dengan Griffith University dalam pengelolaan sampah plastik. Kerja sama tersebut telah memasuki tahun kedua dan menjadi bagian dari pengembangan inovasi serta kepedulian terhadap lingkungan.
Selain pengelolaan sampah, Mareyke menekankan pentingnya membangun budaya kampus yang tertib dan sehat. Polimdo menerapkan sejumlah aturan, termasuk larangan merokok di area tertentu serta pemberian sanksi kepada mahasiswa yang melanggar ketentuan kampus.
Mareyke menambahkan, pembinaan mahasiswa juga dilakukan melalui kegiatan yang bersifat edukatif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, salah satunya dengan menanam serta merawat tanaman sebagai bagian dari sanksi pembinaan.
Mareyke berharap berbagai program tersebut dapat membangun kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya menjaga lingkungan sekaligus memperkuat komitmen Polimdo dalam mewujudkan kampus berkelanjutan.


















