CYBERSULUT.NET — Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Louis Carl Schramm mengkritisi lemahnya pengawasan pemerintah terhadap tata kelola pembuangan limbah pabrik yang kian memprihatinkan.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi IV DPRD Sulut dengan mitra kerja di ruang rapat Komisi IV pada Senin (11/5/2026), legislator asal daerah pemilihan Kota Manado ini mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh sektor industri tidak diimbangi dengan pengawasan lingkungan yang ketat. Akibatnya, banyak pabrik yang membuang limbah secara sembarangan hingga merusak ekosistem sekitar.
“Limbah di mana-mana. Mereka pikir ketika membuang limbah di sungai atau pantai, memang begitu prosedurnya. Hal ini terjadi karena pengawas lingkungan hidup tidak pernah turun dan menegur mereka,” tegas Louis.
Dikatakan Louis Schramm, respons dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) saat menerima aduan dari masyarakat maupun legislatif, kerap kali berdalih tidak bisa melakukan pengawasan di lapangan karena keterbatasan dana.
“Tapi ketika disampaikan ke dinas lingkungan hidup, mereka katakan, ‘Pak, mau turun ke sana tapi kita tidak punya uang’,” ungkap Louis membeberkan kendala operasional yang dihadapi instansi tersebut.
Dalam RDP tersebut, Louis mengungkapkan salah satu kasus nyata yang terjadi pada sebuah pabrik kecap di wilayah Sumompo, Kecamatan Tuminting Manado. Pabrik tersebut diduga sengaja menimbun limbah mereka dan memanfaatkan faktor cuaca untuk mengelabui lingkungan.
“Tiap hujan itu sungai bukan coklat tapi hitam karena itu limbah dia buang di sungai karena dia tunggu hujan. Kalau musim panas karena sudah penuh mereka tetap buang karena bau,” ungkapnya.
Menurut Louis Schramm, tidak adanya sanksi tegas dan teguran dari pemerintah daerah telah menciptakan pembiaran yang fatal. Para pelaku industri merasa tindakan merusak lingkungan tersebut, adalah hal yang wajar karena tidak pernah ditindak secara hukum.
“Satu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang jadi adat istiadat, meskipun itu salah. Tapi itulah kenyataan di lapangan,” pungkas politisi Gerindra Sulut tersebut.


















