CYBERSULUT.NET – Rumah Sakit (RS) Kitawaya tengah berupaya membenahi sarana dan prasarana pelayanan kesehatan. Saat ini, pihak manajemen menganggarkan pengadaan 12 unit air conditioner (AC) baru guna menggantikan sistem pendingin ruangan yang sebagian besar mengalami kerusakan total.
Hal tersebut diungkapkan Plt Direktur RS Kitawaya, Kethlin Carolin Mewo dalam rapat bersama Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Selasa (8/9/2026).
Menurut Kethlin, kerusakan fasilitas AC tersebut terjadi karena belum pernah mendapatkan perawatan secara menyeluruh sejak rumah sakit ini difungsikan sebagai rumah sakit darurat COVID-19 pada tahun 2021.
“Perlu diketahui juga, RS Kitawaya semenjak menjadi rumah sakit COVID atau rumah sakit darurat pada tahun 2021, AC yang ada di rumah sakit belum pernah diservis,” ujar Kethlin.
Sistem pendingin utama di RS Kitawaya sebenarnya menggunakan AC sistem HEPA filter merek Daikin yang dilengkapi sembilan kompresor. Namun, akibat ketiadaan perawatan optimal selama bertahun-tahun, delapan kompresor di antaranya rusak dan hanya menyisakan satu kompresor yang masih berfungsi.
Pihak manajemen telah berkoordinasi dengan Daikin untuk estimasi pembenahan. Hasilnya, biaya perbaikan sistem tersebut ditaksir mencapai Rp270 juta. Anggaran yang tergolong besar ini menjadi kendala utama bagi rumah sakit sehingga opsi perbaikan total belum dapat terealisasi.
“Sudah kami konfirmasi dengan pihak Daikin. Pihak Daikin meminta anggaran sekitar Rp270 juta, sedangkan kami tidak memiliki anggaran sebanyak itu untuk perbaikan AC,” jelasnya.
Kerusakan AC ini berimbas langsung pada optimalisasi operasional dan pemenuhan standar pelayanan medis. Salah satu yang paling terdampak adalah fasilitas Acute Stroke Unit (ASU). Sejak RS Kitawaya menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan, ruang ASU belum bisa difungsikan untuk menerima pasien karena kondisi suhunya tidak memenuhi syarat standar.
Selain layanan ASU, kendala serupa dialami pada pengelolaan obat-obatan. Manajemen RS Kitawaya belum bisa mengoperasikan gudang obat yang sesuai regulasi karena tempat penyimpanan obat membutuhkan standar suhu tertentu menggunakan AC.
Menanggapi persoalan tersebut, manajemen RS Kitawaya mengambil langkah konkret dengan memasukkan alokasi pengadaan AC baru ke dalam anggaran operasional rumah sakit.
Dari total 12 unit AC baru yang dianggarkan, sebanyak lima unit akan diprioritaskan untuk pemenuhan fasilitas di ruang Intensive Care Unit (ICU). Sementara unit sisanya dialokasikan ke sejumlah ruangan vital lain, termasuk ruang ASU dan calon gudang obat.
Kethlin berharap, pengadaan AC baru ini secara bertahap dapat menyelesaikan hambatan fasilitas yang terjadi selama ini. Dengan terpenuhinya standar sarana pendingin udara, RS Kitawaya dapat segera mengoperasikan layanan ASU serta menyediakan gudang obat yang memadai bagi masyarakat.
“Jadi, sekarang sudah dianggarkan,” pungkasi Kethlin.


















