CYBERSULUT.NET – Akademisi Hotniar Siringoringo menekankan pentingnya sinergi pentahelix dalam membangun kemitraan antara pendidikan vokasi dan industri melalui dukungan program penelitian yang dikatalisasi oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Seminar Nasional Produk Terapan Unggulan Vokasi Politeknik Negeri Manado Tahun 2026 yang mengangkat tema “Sinergi Pentahelix: Penguatan Kemitraan Vokasi dan Industri dalam Mewujudkan Ekosistem Hijau yang Berkelanjutan.”
Menurut Hotniar, dosen dan perguruan tinggi perlu memahami arah penelitian yang telah dirancang pemerintah agar hasil riset tidak hanya berorientasi pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
“Sebagai dosen, kita harus paham ke mana arah penelitian yang dirancang pemerintah Indonesia. Selama ini masih banyak penelitian yang fokusnya hanya untuk memenuhi tridarma perguruan tinggi dan menghasilkan publikasi. Padahal penelitian seharusnya mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat,” ujarnya.
Hotniar menilai Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar dan menjadi modal utama dalam mendorong lahirnya inovasi berbasis riset. Menurutnya, potensi tersebut harus dimanfaatkan secara optimal melalui kolaborasi antara akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media sebagai unsur pentahelix.
“Indonesia merupakan negara yang sangat kaya. Saya sudah mengunjungi banyak negara di berbagai benua, dan saya melihat Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Potensi ini harus menjadi kekuatan untuk menghasilkan penelitian dan inovasi yang berdampak,” kata Hotniar
Hotniar juga mengungkapkan bahwa kekayaan alam Indonesia, khususnya di kawasan timur, masih menjadi keunggulan yang belum dimiliki banyak negara. Potensi sektor perikanan, pertanian, serta kekayaan hayati lainnya dinilai menjadi peluang besar untuk dikembangkan melalui riset terapan dan kerja sama dengan dunia industri.
Hotniar juga mencontohkan wilayah Indonesia Timur, termasuk Sulawesi Utara, yang memiliki sumber daya perikanan melimpah dan kualitas hasil laut yang masih sangat baik. Potensi tersebut, menurutnya, dapat menjadi basis pengembangan produk unggulan berbasis vokasi.
“Indonesia ibarat kolam susu. Apa yang kita butuhkan sebenarnya tersedia di negeri ini. Tinggal bagaimana kita mengelola kekayaan tersebut melalui penelitian yang tepat dan membangun kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan industri,” ungkapnya.
Melalui penguatan sinergi pentahelix, Hotniar berharap penelitian di perguruan tinggi vokasi tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.


















