CYBERSULUT.NET – Direktur Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Mareyke Alelo, MBA, menegaskan pentingnya memperkuat keterkaitan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan dunia industri melalui konsep link and match, pengembangan teaching factory, serta kemitraan dengan berbagai pihak.
Hal tersebut disampaikan Mareyke Alelo dalam sambutannya pada Workshop Jurusan Pariwisata, Program Studi D-IV Perhotelan, bertajuk “Penguatan Teaching Factory, Kompetisi SDM dan Kemitraan Industri Menuju Pendidikan Vokasi Berdaya Saing Global”, di Ruang Kelas GKT Lantai I. Rabu (21/10/2026).
Menurut Mareyke, pendidikan vokasi harus mampu menjawab tantangan dan kebutuhan nyata dunia industri. Karena itu, Polimdo perlu membangun kerja sama yang erat dengan industri dan masyarakat agar proses pembelajaran menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan lapangan kerja.
“Politeknik harus menjawab tantangan yang ada di industri. Industri membutuhkan apa, itu yang harus kita sediakan. Kita harus membangun link and match, terhubung dengan kebutuhan industri dan masyarakat, sehingga pembelajaran kita juga sesuai,” tegas Mareyke.
Mareyke menjelaskan, keterlibatan industri bukan sekadar pelengkap dalam proses pendidikan, melainkan bagian penting dari pengembangan institusi pendidikan vokasi.
Melalui kemitraan yang kuat, industri dapat memberikan masukan mengenai kompetensi yang dibutuhkan, sehingga kurikulum dan proses pembelajaran dapat terus disesuaikan dengan perkembangan dunia kerja.
Mareyke berharap lulusan Polimdo memiliki keterampilan, pengetahuan, dan sikap profesional yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga dapat langsung beradaptasi dengan lingkungan kerja tanpa harus melalui pelatihan tambahan dalam waktu yang panjang.
“Hal itu hanya bisa dilakukan apabila industri dan politeknik bekerja sama,” ujarnya.
Dirinya juga menyoroti pengembangan teaching factory sebagai salah satu upaya strategis untuk menghadirkan lingkungan pembelajaran yang menyerupai kondisi nyata di dunia industri.
Menurutnya, teaching factory memungkinkan mahasiswa mempelajari berbagai tahapan proses bisnis, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, koordinasi hingga pemantauan.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman praktik yang mendukung penguasaan kompetensi kerja.
Meskipun lingkungan pembelajaran yang dibangun belum sepenuhnya sama dengan kondisi industri sesungguhnya, Mareyke menilai teaching factory menjadi sarana penting untuk mempercepat proses transfer pengetahuan, keterampilan, dan pembentukan sikap profesional mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.
Selain memperkuat hubungan dengan industri, Mareyke menekankan pentingnya kemitraan Polimdo dengan desa-desa yang memiliki potensi ekonomi, pariwisata, dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara optimal.
Mareyke mencontohkan sejumlah desa yang memiliki kekayaan tanaman, beragam jenis pisang, tanaman hias, serta potensi wisata alam, tetapi belum sepenuhnya menyadari nilai ekonomi dari sumber daya yang dimiliki.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat berperan membantu masyarakat mengenali, mengelola, dan mengembangkan potensi tersebut agar memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
“Semua mitra ini adalah living lab atau laboratorium hidup bagi politeknik. Kami ingin mitra-mitra ini berkembang, menjadi mandiri, dan mampu membiayai dirinya sendiri secara finansial,” ungkapnya.
Mareyke menambahkan, kemitraan tidak boleh berhenti pada pola hubungan ketika masyarakat hanya menjadi penerima manfaat program.
Sebaliknya, masyarakat harus diberdayakan agar mampu mengembangkan kompetensi, mereplikasi program, serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan kesejahteraan di daerah masing-masing.
Dalam sektor pariwisata, ia turut menyinggung potensi wisata bahari, termasuk kawasan mangrove, pantai berpasir putih, serta peluang pengembangan aktivitas snorkeling dan selam.
Potensi tersebut, menurutnya, dapat dikembangkan melalui peningkatan keterampilan masyarakat, termasuk pelatihan dan sertifikasi bagi tenaga yang dibutuhkan.
Mareyke juga mendorong pemanfaatan potensi lokal untuk mengembangkan usaha produktif, seperti kafe modern di desa, serta berbagai produk berbasis sumber daya alam yang memiliki nilai jual.
Mareyke mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan potensi yang dimiliki berlalu tanpa memberikan manfaat ekonomi. Dengan pendampingan dan kerja sama yang tepat, sumber daya lokal dapat menjadi peluang usaha, membuka lapangan kerja, serta memperkuat kemandirian masyarakat.
Melalui workshop tersebut, Mareyke berharap penguatan teaching factory, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, dan kemitraan industri dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, Polimdo diharapkan mampu menghasilkan lulusan pendidikan vokasi yang kompeten dan berdaya saing global, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan industri, pariwisata, dan perekonomian masyarakat Sulawesi Utara.


















