CYBERSULUT.NET – Sektor pertambangan dan konstruksi berpeluang mengalami lompatan efisiensi signifikan berkat inovasi teknologi yang tengah dikembangkan oleh para peneliti Politeknik Negeri Manado (Polimdo), diantaranya Rudolf Mait, Ferdi Kalumata dan Steven Kamurahan. Inovasi teknologi berbasis kecerdasan dan otomatisasi ini mampu memotong waktu penghitungan data galian tanah dan mineral dari yang semula memakan waktu bertandai-hari menjadi seketika (real-time).
Dipaparkan Fardi Kalumata, ide awal pengembangan teknologi ini berangkat dari besarnya kebutuhan akan data cepat dan akurat di lapangan. Dalam proyek pertambangan konvensional, proses untuk mengetahui volume tanah maupun material alam seperti nikel yang berhasil digali biasanya membutuhkan waktu hingga 2–3 hari.
“Biasanya harus digali dulu, dipintakan, lalu dihitung lagi. Nah, dengan apa yang kami bangun saat ini, di saat itu juga hasilnya sudah langsung didapat,” ujar Fardi Kalumata.
Sistem ini mengandalkan pemindaian (scanning) otomatis menggunakan pesawat nirawak (drone). Hasil pindai drone tersebut dikirimkan secara langsung (real-time) ke sistem pada alat berat, yang kemudian terhubung ke perangkat lunak (software) terintegrasi.
Dengan skema ini, para pengelola proyek dan operator dapat langsung mengetahui progres pekerjaan harian secara presisi. Informasi mengenai kubikasi galian hingga perkiraan estimasi kandungan mineral dapat diakses begitu pekerjaan hari itu selesai.
Meski saat ini aplikasinya masih dalam tahap model awal, Vardi optimistis pengembangan ke depan akan melipatgandakan kapabilitas sistem ini. Rencananya, perangkat lunak tersebut akan diperkaya dengan pemasangan sensor fisik langsung pada unit alat berat seperti eksavator, dozer, maupun bulldozer.
Selain itu, berdasarkan penjajakan dan diskusi bersama pihak pimpinan perguruan tinggi (Wakil Rektor III) dan mitra, cakupan analisis sistem ini ditargetkan tidak hanya berhenti pada pemetaan permukaan semata.
“Kedepannya tidak menutup kemungkinan ini bukan hanya sampai di permukaan, tetapi bisa sampai ke kandungan di dalamnya, termasuk daya dukung tanah, lapisan tanah, jenis tanah, hingga potensi pengembangan ke depan,” pungkas Fardi Kalumata.
Hadirnya inovasi ini diharapkan mampu mendorong digitalisasi industri ekstraktif dan konstruksi di Indonesia menuju era pemantauan presisi tinggi, hemat waktu, dan minim kesalahan operasional.


















