Dosen Polimdo Latih Jemaat GFPR Rayon 13 Manado Kembangkan Ecoprint dan Akuntansi Sederhana

CYBERSULUT.NET

Dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen Politeknik Negeri Manado melaksanakan kegiatan “Pelatihan dan Pendampingan Membatik Ecoprint Berbasis Potensi Lokal serta Akuntansi Sederhana bagi Jemaat Gereja GFPR Rayon 13 Manado” pada 22 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata komitmen Politeknik Negeri Manado dalam menghadirkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan inovasi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Program pengabdian ini dirancang untuk meningkatkan keterampilan, kreativitas, serta kemandirian ekonomi jemaat melalui pemanfaatan potensi lokal yang ramah lingkungan.

Selain memberikan pelatihan praktik membatik ecoprint, peserta juga dibekali pemahaman mengenai akuntansi sederhana. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha yang dikelola secara lebih terencana dan berkelanjutan.

Johana M. Ratag, SE., M.Si. menyampaikan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan akademik perlu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Potensi lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara kreatif, berkelanjutan, dan memiliki nilai tambah. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat untuk melihat potensi di lingkungan sekitar sebagai peluang yang dapat dikembangkan,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Selvie Nangoy, SE., M.Si. menekankan pentingnya membangun pola pikir kewirausahaan di tengah masyarakat. Menurutnya, keterampilan membuat produk ecoprint dapat menjadi pintu masuk bagi jemaat untuk mengembangkan usaha produktif.

“Kami ingin peserta melihat bahwa sebuah keterampilan dapat berkembang menjadi peluang usaha apabila disertai perencanaan, kreativitas, dan strategi pemasaran yang baik,” tuturnya.

Sementara itu, Farida I.S. Wakidin, SE., M.Pd. mengatakan bahwa pelatihan dirancang dengan pendekatan praktik agar peserta dapat memahami setiap proses secara langsung.

“Pembelajaran akan lebih bermakna ketika masyarakat tidak hanya menerima teori, tetapi juga mencoba, menghasilkan produk, dan memperoleh pengalaman untuk mengembangkan keterampilannya secara mandiri,” jelasnya.

Dra. Anneke M. Kaunang, M.Pd. melihat kegiatan tersebut sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan nonformal yang aplikatif. Ia berharap pelatihan dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha.

“Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri peserta bahwa mereka mampu menghasilkan karya yang kreatif, bernilai, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk usaha,” katanya.

Dari sisi pemanfaatan potensi alam, Roslina H.S.D. Limpeleh, SE., M.Si. menilai ecoprint memiliki prospek yang menarik karena memadukan kreativitas, pemanfaatan bahan alam, serta kepedulian terhadap lingkungan.

“Produk ecoprint bukan hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga dapat membawa pesan tentang pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dra. Harty U.H.L. Koagouw, M.Hum. menambahkan bahwa pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai kearifan lokal.

“Kegiatan seperti ini mengajarkan masyarakat untuk mengenali, menghargai, dan memanfaatkan kekayaan lingkungan secara bertanggung jawab, sekaligus mengembangkan kreativitas yang berakar pada potensi lokal,” ungkapnya.

Sementara itu, dari perspektif pengembangan masyarakat, Treesje L. Runtuwene, SE., MAP. menilai bahwa proses pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi perlu dilanjutkan dengan penerapan dan pengembangan keterampilan yang telah diperoleh.

“Pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat diterapkan secara konsisten serta dikembangkan menjadi kegiatan produktif,” jelasnya.

Aspek pengelolaan usaha juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Jeane Ch. Lasut, SH., MH. menyoroti pentingnya pengelolaan usaha yang tertib dan bertanggung jawab, termasuk pemahaman terhadap aspek hukum yang relevan ketika keterampilan mulai dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

“Ketika keterampilan mulai dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi, masyarakat juga perlu memiliki kesadaran untuk mengelola usaha secara baik, termasuk memahami aspek-aspek hukum yang relevan,” katanya.

Elisabeth D. Malonda, SE., MAP. menilai kegiatan ini dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Menurutnya, dukungan antaranggota komunitas dapat menjadi kekuatan dalam mengembangkan keterampilan dan usaha produktif.

“Kekuatan komunitas terletak pada kemampuan anggotanya untuk saling mendukung. Ketika keterampilan, kreativitas, dan pengelolaan usaha berjalan bersama, peluang menciptakan nilai ekonomi akan semakin besar,” ujarnya.

Dalam pengembangan produk, inovasi juga menjadi faktor penting. Loula L.L. Walangitan, SE., MAP. menekankan bahwa produk ecoprint perlu memiliki identitas, kualitas, dan daya tarik agar mampu bersaing di pasar.

“Produk yang baik perlu memiliki identitas, kualitas, dan daya tarik. Karena itu, peserta perlu terus berinovasi agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik, tetapi juga memiliki daya saing di pasar,” ungkapnya.

Deasy Lusiana, SE., M.Si. turut menekankan pentingnya keberlanjutan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Ia berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memiliki motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memiliki motivasi untuk terus belajar, berinovasi, dan melihat peluang ekonomi dari potensi yang tersedia di lingkungan mereka,” katanya.

Sementara itu, Lidya A. Maramis, SE., MSA., Ak., CA. menegaskan bahwa kemampuan mengelola keuangan merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan usaha. Melalui akuntansi sederhana, pelaku usaha dapat mengetahui biaya yang dikeluarkan, pendapatan yang diperoleh, serta keuntungan yang dihasilkan.

“Akuntansi sederhana membantu pelaku usaha mengetahui biaya yang dikeluarkan, pendapatan yang diperoleh, serta keuntungan yang dihasilkan. Pencatatan keuangan tidak harus rumit, tetapi perlu dilakukan secara tertib dan konsisten agar usaha dapat berkembang dengan sehat,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir secara langsung untuk memberikan kontribusi dalam meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat.

Melalui transfer pengetahuan dan keterampilan yang aplikatif, dosen dapat menjembatani ilmu akademik dengan kebutuhan nyata di tengah masyarakat. Pelatihan ecoprint berbasis potensi lokal juga menjadi sarana untuk mendorong masyarakat memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara kreatif sekaligus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

Tim dosen Politeknik Negeri Manado berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi Jemaat Gereja GFPR Rayon 13 Manado. Peserta diharapkan mampu meningkatkan keterampilan, kreativitas, serta wawasan mengenai peluang kewirausahaan berbasis potensi lokal.

Perpaduan antara ecoprint, kepedulian terhadap lingkungan, kewirausahaan, dan akuntansi sederhana diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju masyarakat yang lebih produktif, mandiri, dan berdaya secara ekonomi.

Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Politeknik Negeri Manado untuk terus menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara nyata dan berkelanjutan, dengan menjadikan pengabdian kepada masyarakat sebagai sarana berbagi pengetahuan, membangun kemandirian, serta menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Continue copy, click home