CYBERSULUT.NET – Pasca 7 hari setelah Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, ada tradisi Lebaran Ketupat atau juga dikenal sebagai Kupatan.
Tradisi Lebaran Ketupat ini merupakan warisan budaya yang masih lestari hingga zaman sekarang di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Jawa Timur.
Dikutip dari artikel Ketupat as Vernacular Islamic Symbol: Locality, Globalization, and The Philosophy of Lived Islam In Indonesia and Malaysia karya Muhammad Yusuf Baity dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Muhammad Syaikhul Arif Universitas Gadjah Mada yang terbit di Journal of Islamic Thought and Philosophy (JITP), secara genealogis, bentuk anyaman ketupat memiliki akar yang kuat dalam budaya agraris masyarakat Austronesia yang memuliakan dewi padi atau Dewi Sri di Jawa sebagai entitas yang memberikan kesuburan.
Sebelum kedatangan Islam, dekorasi anyaman daun kelapa sering digunakan dalam ritual untuk menangkal roh jahat atau pemujaan leluhur. Namun, para penyebar Islam awal, khususnya Walisongo di Jawa, tidak menghapuskan tradisi ini. Sebaliknya, mereka melakukan apropriasi bentuk tanpa mengubah struktur fisik, tetapi mengganti isinya dengan nilai-nilai baru.
Dalam proses ini, ketupat mengalami pemberian makna ulang secara semantik dari jimat pelindung magis menjadi simbol etika sosial Islam. Janur, yang dulunya memiliki makna animistik, diubah menjadi akronim jatining nur (hati nurani) atau ja’a al-nur (datangnya cahaya), yang menandakan transisi dari kegelapan kebodohan menuju cahaya Islam.
Sunan Kalijaga, yang dikenal sebagai salah satu Walisongo memperkenalkan ketupat sebagai media dakwah untuk mengajarkan filosofi Laku Papat (empat tindakan) yaitu lebar (menyelesaikan puasa), lebur (menghapus dosa), luber (memberi sedekah yang berlimpah), dan labur (kembali ke kemurnian)
Mengutip jurnal Sociopolitico Universitas PGRI Palangka Raya berjudul Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat bagi Masyarakat Jawa karya Sriyana dan Wiwik Suprapti (2024), Lebaran Ketupat telah ada sejak zaman masuknya agama Islam di Jawa. Dahulu, tradisi ini merupakan upaya Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai salah satu Walisongo untuk menanamkan ajaran Islam.
Lebaran Ketupat merupakan salah satu contoh akulturasi Islam-Jawa yang paling jelas dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Sunan Kalijaga memasukkan ketupat yang merupakan adopsi dari upacara kenduri yang sebelumnya dikenal masyarakat Jawa untuk dikembangkan menjadi acara keagamaan pada masa Kesultanan Demak Bintoro sekitar abad ke-15. Lebaran Ketupat dilaksanakan pada tanggal 7-8 Syawal atau sepekan setelah hari raya Idul Fitri.
Selama Lebaran Ketupat masyarakat akan menyediakan makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan daun kelapa yang telah dianyam sedemikian rupa.
Selain itu, masyarakat akan menyediakan ketan, kolak, dan apem yang diberi wadah pisang. Kemudian dibentuk sedemikian rupa dan disebut takir.
Ketan adalah simbol yang diambil dari kata khatam (selesai) yang artinya selesai melakukan ibadah. Adapun takir diambil dari kata zikir dan apem diambil dari kata afwan yang berarti ampunan dari dosan.
Selama pembuatan ketupat, beberapa masyarakat juga ada yang memiliki beberapa keyakinan seperti:
- Ojo nggawe neng ngisor wit, marai ora mateng (jangan membuat ketupat di bawah pohon, dikhawatirkan ketupat tidak matang atau tidak jadi)
- Sedurunge masak kupat, sandinge dikepyuri uyah (sebelum merebus ketupat, area di sekitar kuali ditaburi garam)
- Nek gawe ojo karo nesu, marai rak dadi (jika membuat ketupat jangan dalam keadaan marah atau emosi, nanti tidak jadi atau tidak matang)
- Nek duwe keluarga seng wes tinggal kudune nggawe kupat kanggo ngenduri (jika ada salah satu keluarga yang sudah meninggal, anggota keluarga lain yang masih hidup harus membuat ketupat untuk selamatan)
- Nek mangan kupat ojo diudari/diuculi, mundak jodo ne jeru (kalau makan ketupat jangan dilepas anyamannya)
- Nek duwe wong mati, nek gawe kupat lepet, nek wonge entuk iman, mangane bareng-bareng. Nek ora entuk iman, mangane gosek-gosek (kalau punya keluarga yang sudah meninggal, buatlah ketupat. Jika almarhum orang yang beriman, ia bisa makan bersama dengan keluarganya. Jika almarhum bukan orang beriman, ia hanya mendapatkan sisa-sisa makanan)
- Nek wes dadi, ojo lali dicentelno neng pawon karo neng lawang ngarep omah (jika ketupat sudah matang, jangan lupa digantung di dapur dan pintu depan rumah)
Makna Filosofis Lebaran Ketupat
Lebaran Ketupat tentunya memiliki makna pelestarian budaya Jawa yang masih eksis hingga saat ini. Dalam segi ketupatnya pun terdapat makna tersendiri.
Pada masa pemerintahan Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah, ketupat terbuat dari janur. Bahan tersebut menunjukan identitas budaya pesisiran yang ditumbuhi pohon kelapa.
Adapun warna kuning pada janur tersebut adalah upaya masyarakat pesisir Jawa untuk membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur.
Menurut budayawan Zastrouw Al-Ngatawi, tradisi kupatan adalah bentuk dari sublimasi dari ajaran Islam dalam tradisi masyarakat Indonesia. Tak hanya makan-makan, makna Lebaran Ketupat menurutnya lebih dalam lagi.
Lebaran Ketupat mengajarkan manusia untuk bersyukur kepada Allah SWT. Selain itu, sebagai jalan untuk bersedekah dan menjalin silaturahmi.


















