Transaksi Tanah di Bolmong Tak Kunjung Tuntas, Mei Bakal Tempuh Jalur Hukum

0
4
San Mei, calon pembeli tanah di Bolmong. / Istimewa

CYBERSULUT.NET – San Mei sebagai pembeli sebidang tanah di Desa Baturapa 2 Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) merasa dirugikan dan ditipu Nurhayati Zakarias atau kerap disapa Yunike.

Pasalnya, San Mei yakni pembeli telah memberikan uang sebesar Rp.15 juta sebagai uang panjar untuk pembelian sebidang tanah di Desa Baturapa 2 Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) 30 Juni 2021 lalu, dengan cara mentrasfer lewat rekening milik Sekretaris Desa (Sekdes) Baturapa 2, Siane Y Mameles.

Namun, perjanjian agar penjual yaitu Yunike harus kembali ke Manado karena saat ini sedang berada di Papua untuk melengkapi surat Jual-Beli hingga kini belum bisa dipenuhi dengan berbagai alasan.

Geram, San Mei pun berencana akan membawa kasus ini hingga ke ranah hukum.

“Iya, karena janji untuk pulang manado tidak digubris terpaksa saya harus tempuh jalur hukum,” ungkap Mei kepada media ini via pesan Whatsapp, Selasa (12/10/2021).

Lebih dari itu lanjut Mei yang kini sedang berada di Jerman, tanah tersebut sesuai informasi yang diterima sebelumnya sudah dijual ke pihak lain.

“Jadi, tanah itu pada bulan April 2021 sudah di jual ke orang lain, dan tanggal 30 Juni 2021 di jual lagi ke saya. Jelas saja saya merasa ditipu, ” ucap Mei.

Ditambahkan Mei bila dirinya mempunyai bukti dan saksi bila tanah tersebut ternyata sudah dijual ke pihak lain sebelum dirinya.

Menurut Mei, bahwa dirinya sudah meminta agar pembeli mengembalikan uang panjar sebesar Rp.15 juta tersebut bila hingga tanggal yang sudah disepakati untuk bertemu tidak dipenuhi Yunike.

“Saya minta dia kembalikan uang saya tanggal 2 Oktober lalu, tapi hingga kini tidak juga,” sambung Mei.

Sebelumnya, 1 Oktober 2021 jual beli tanah tersebut telah di konfirmasi media ini via pesan singkat dan telpon Whatsapp kepada penjual yaitu, Yunike Zakarias.

Dia pun membeberkan alasan belum bisa penuhi janji kepada pembeli (San Mei).

“Yang ada cuman kapal barang trus saat ini masih belum bisa kembali karena corona. Kan biaya untuk tes PCR itu mahal sementara saya pulang dengan anak saya, ” jelasnya.

Ditanya kebenaran tanah tersebut juga sudah dijual kepada pihak lain serta merta dibantah Yunike.

“Tidak benar. Tanah itu tidak dijual ke orang lain, sertifikatnya masih ada dan itu dipegang oleh saudara saya ibu siane,” terang dia.

Disampaikan Yunike akan kembali ke Manado setelah kegiatan PON berakhir di Papua.

“Saya kan dapat orderan kue di PON ini, nanti selesai PON baru saya pulang Manado. Saya tidak ada niat membohongi apalagi menipu ibu Mei, tapi apa yang saya sampaikan adalah yang sebenarnya,” aku Yunike.

Sedangkan Siane Mameles (Sekdes) Desa Baturapa 2 saat dikonfirmasi pada hari yang sama oleh wartawan media ini membenarkan bila panjar uang tanah sebesar Rp.15 juta oleh San Mei menggunakan rekening miliknya.

“Iya…15 juta. Baru saya langsung transfer ke ibu yunike,” sebut Siane lewat pesan singkat Whatsapp.

Ditanya apakah dirinya tahu transfer uang tersebut untuk apa, dijawab Siane, “Soalnya itu doi (uang) kita langsung kirm ke ibu yunike tapi kita nda tau kalau dorang (mereka) mau peruntukan buat apa itu uang bu..,” bunyi whatsapp tersebut.

“Soalnya yang pemilik tanah ibu yunike to Bu, tapi Ka’Mei minta kita pe no Rek biar nanti kita kata yang transfer ke ibu yunike. Jadi petarek tu doi, kita langsung kirm supaya perjalanan 1 kali karna 8 Km ke Bank Bu…jadi kita langsung transfer,” ungkapnya masih lewat pesan whatsapp.

Dirinya pun membenarkan bila masih ada hubungan keluarga dengan pihak penjual.

“Masih ada kaitan sudara…Makanya ini sertifikat dorang titip dirumah sini,” tutup dia seraya menambahkan bila sertifikat tersebut sudah dua tahun dititipkan kepadanya.

 

 

REDAKSI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here